Ketika ada orang bertanya, “Apa yang tidak mungkin bagi Tuhan?”, maka kebanyakan orang mungkin akan menjawab, “Tak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, karena Tuhan dengan 99 asma’ul husna-Nya tidak memiliki keterbatasan seperti yang dimiliki oleh makhluk-Nya.”. Bagaimana kalau ketika orang yang bertanya tadi menanyakan, “Bagaimana dengan pengingkaran janji Tuhan? Kalau memang tak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, berarti ada kemungkinan kalau Tuhan akan mengingkari janji-Nya.”?
Kalau kita bersikukuh dengan jawaban “tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan”, berarti kita terpaksa harus menyetujui kalau Tuhan mungkin saja mengingkari janji-janji-Nya seperti yang tertulis di kitab-kitab manapun. Dan kalau kita mengakui bahwa Tuhan mungkin saja mengingkari jani-Nya, kita bisa mempertanyakan kebijakan Tuhan tentang janji-Nya yang kurang tegas dan terkesan hanya menakut-nakuti saja. Perintah-perintah untuk beribadah dan larangan-larangan melakukan sesuatu dibuat hanya untuk menyeragamkan pola pikir dan tindakan manusia, tetapi tetap ada azas toleransinya. Pahala dan surga mungkin cuma sekedar sebagai iming-iming agar manusia mau menuruti perintah-Nya. Sedangkan dosa dan neraka mungkin bisa dianalogikan dengan ‘monster-monster ganas yang bersembunyi di sela-sela gigi’ yang diciptakan oleh seorang ibu agar si kecil mau menyikat giginya sebelum tidur. Keduanya, pahala dan dosa atau surga dan neraka, mungkin sama-sama semu, tidak pernah benar-benar ada. Seperti notasi ‘j’ yang ditambahkan pada bilangan imajiner, yang sengaja diciptakan untuk membantu otak manusia agar lebih mudah melakukan penghitungan.
Kalau ternyata sebagian dari kita ada yang menjawab bahwa “Tuhan tidak mungkin mengingkari janji-Nya”, sekali lagi kita bisa mempertanyakan tentang kekuasaan Tuhan yang ternyata tidak semutlak seperti yang digambarkan di kitab-kitab dan ungkapan “tak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan” akan lapuk dan menjadi bahan anekdot. Asma’ul husna akan menjadi bahan dongeng pengantar tidur.
“Pada zaman dahulu, ketika umat manusia masih memiliki keyakinan terhadap agama lengkap beserta atributnya, Tuhan itu disembah-sembah, diserukan nama-Nya sepanjang hari. Di dalam kitab manapun Tuhan selalu menegaskan tentang kekuasaan-Nya yang mutlak. Sampai suatu ketika, mereka sadar bahwa mereka telah dibohongi oleh Tuhannya sendiri, sehingga salah satu dari mereka berteriak dengan lantang, ‘Tuhan, Tuhan, . . loe toe yee, sok banget . . .!’”
Satu paragraf cuplikan yang terakhir ada baiknya kalau tidak diseriusi. Kembali lagi ke pertanyaan paradoks awal, “apa yang tidak mungkin bagi Tuhan?” atau “apakah mungkin Tuhan mengingkari janji-Nya?”. Mungkin pertanyaan tersebut hanya akan kita ketahui jawabannya dengan menanyakannya langsung kepada Tuhan. Tapi menurut opini saya, Tuhan cuma menginginkan kehidupan manusia menjadi lebih teratur dan terarah dengan diterapkannya ajaran agama (tidak peduli agama apapun), seperti seni yang membuat hidup menjadi lebih indah dan ilmu yang membuat hidup menjadi lebih mudah. (ma/070106)

intinya ho, tuhan itu tidak menuhankan, pokoke tuhan ya tuhan…..yo ra?