Sehat Itu Nikmat
Sudah lewat masa 4 hari menjadi pesakitan, rasanya asing karena sudah lama tidak sakit. Selain itu juga janggal, tidak ada kunjungan dari teman, pacar, apalagi bingkisan buah. Atasan di kantor malah nyuruh masuk ke kantor, sekedar absen saja, setelah itu silahkan dilanjutkan sakitnya di rumah, (atau tepatnya di kamar kos-kosan). Itu dengan catatan, harus gak punya rasa sungkan dengan orang-orang dari divisi tetangga. Sebagai orang melayu, ternyata susah ngilangin rasa sungkan. Jadinya setelah sampai di kantor, yang ada malah nunggu sampai menjelang jam makan siang datang, biar orang-orang kantor berkeliaran nyari makan siang dulu, baru aku cabut.
Tapi sebenarnya agak malas juga kalau langsung pulang. Maklumlah…masih hidup sendiri. Di rumah, jabatanku selain jadi pasien, juga jadi perawat. Bahkan kadang-kadang sok berlagak jadi dokternya juga. Gak tahu sakitnya apa, ujug-ujug si pasien dikasih antibiotik, 2 macam lagi, amoksisilin sama ciprofloxacin. Gila ni dokter…antibiotik kan harusnya dipakai sebagai obat pendamping.
“Terserah donk…yang jadi pasien kan diriku sendiri”, gaya betul ni dokter. Ehh…belum cukup. Kalau malam ditambah lagi dengan antihistamine, katanya biar enak tidurnya. “Manut aja dok…ngomong-ngomong dapat ilmu dari mana dok?”. Dokternya cuma bilang, “trial and error.”
hahahaa….kalau sudah gini aku jadi mikir, atau lebih tepatnya bertanya, “kapan ya aku nikah?” Pinginnya sama salma hayek, tapi udah kebanyakan dicium sama antonio banderas. Sama charlize theron? Wah,kayaknya dia susah ngilangin cinta pertamanya sama king kong. Kalau dian sastro? Waduh..bisa-bisa aku gak bisa ngopi gara-gara gelasnya dipecahin semua. Jadi??? Ya gak usah dipikir…aphrodite belum pensiun kok.
Kalau aku pikir-pikir lagi, kenapa ya ketika aku sehat, aku gak pernah mengucap syukur? Mengucap syukur kalau ada undangan makan-makan aja. Atau ketika ada teman yang lagi kesusahan he..he…(teman senang ikut senang, teman susah tambah senang. Ini joke yang sering dilontarkan sama teman kuliah yang dulu kuliah sambil nyambi jadi tukang tambal ban). Tapi kenapa ya gak pernah terbersit keinginan untuk mengucap syukur karena sudah diberi kesehatan? Kalau lagi sakit aja baru nyadar, betapa nikmat rasanya menjadi sehat. Untung masalah sehat dan sakit itu masalah duniawi, jadi ketika sudah sembuh dari sakit kita masih punya kesempatan untuk ‘bertobat’ dan segera mengucap syukur karena sudah diberi sehat (meskipun ini sangat jarang terjadi). Bagaimana kalau masalah hidup dan mati? Apakah setelah mati kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan karena gak pernah mensyukuri arti hidup ketika kita masih hidup?





3 Responses to “Sehat Itu Nikmat”
By littleucrit on Aug 6, 2009 | Reply
setuju, nanti kalau sudah waktunya, dia (jodoh) akan datang dengan cara yang tak terduga..
[Reply]
manik arum reply:
August 6th, 2009 at 10:17
biasanya sih gitu…
[Reply]
By suklowor on Aug 19, 2009 | Reply
santai.. kalau soal jomblo masih banyak temennya kok… hehe
moga saat aku ngetik comment ini anda sudah sehat wal afiat, + dah punya pacar…
salam
[Reply]