Bertemu Malaikat?

bertemu-malaikatSeorang teman di facebook pernah menulis sebuah note berjudul “Keajaiban”. Saya yakin pengalaman teman saya ini tidak sependek note-nya. Dan dengan seijin yang punya note, di bawah ini saya sajikan note-nya tanpa melalui proses editting sama sekali.

Nyaris terdampar lebih lama di Labuan Bajo Flores karena tiket di bandar udara Komodo habis sampe tgl 2 September, sementara cek di pelabuhan kapal tidak ada yang jalan. Kepasrahan adalah satu-satunya jalan untuk meredam semuanya padahal galau di hatiku tak bisa kusembunyikan karena hari itu sebenarnya harus segera tiba di denpasar.

Airmataku rasanya udah mau jatuh ketika tiba-tiba seorang kontributor salah satu TV swasta yang tidak pernah kenal sebelumnya mampu menawarkan solusi dan mampu menembus ke pimpinan bandara hanya untuk mendapatkan tiket agar aku bisa segera keluar dr pulau itu. Benar-benar suatu keajaiban yang tak pernah terlupakan dalam sejarah hidupku.

Bahkan sampe sekarang pun masih belum percaya klo udah tiba kembali di denpasar karena sebelumnya terbayang pasti awal september baru tiba…

Ternyata setelah ditelusuri tiket pesawat udah dibooking jauh-jauh hari oleh para turis yang mau ke pulau Komodo…

Tuhan ternyata Kau ulurkan tangan-Mu lewat dia. Terima kasih Tuhan,

Terima kasih Sahabatku, Lanjutkan karya dan perjuanganmu.

Itulah pengalaman teman saya. Sekarang giliran saya. Saya juga punya pengalaman yang mungkin senada, meski tidak seseru dan sedramatis dengan cerita di atas.

Di suatu siang yang panas mengganas (sengaja pake majas hiperbola…biar waahh gitu… Smile ), saya berkunjung ke sebuah toko obat kecil di Buduk yang berada di daerah sub-urban Badung Bali. Di situ, saya dilayani oleh seorang bapak (sebut saja pak adel) yang menurut perkiraan saya umurnya sekitar 50-55 tahun. Sebelumnya saya sering ke sana paling tidak dua minggu sekali, tapi selama sekian kali saya tidak pernah menjumpai pak adel, dan di akhir perjumpaan saya baru tahu kalau pak adel itu ternyata owner dari toko obat itu.

Karena saya tidak pernah bertemu beliau sebelumnya, di awal perjumpaan saya memperkenalkan diri sebagai ‘duta’ dari sebuah perusahaan farmasi. Pak adel menyambut ramah dan bersikap open-minded ketika proses interaksi antara saya dan beliau lebih didasari atas kepentingan saya yang ingin melaksanakan tugas. Setelah saya bicara panjang tambah lebar dikali dua sama dengan keliling, subjek pembicaraan sekarang beralih mengenai pribadi pak adel. Beliau bercerita banyak tentang pengalamannya semasa masih hidup di Jakarta dan setelah hijrah ke Denpasar. Sewaktu masih muda, beliau ternyata juga seorang detailer dan beberapa kali pindah perusahaan sebelumnya akhirnya hinggap di Denpasar dan membangun ‘kerajaan kecil’-nya sendiri. Meski usia sudah lanjut, tapi beliau ……(uppsss….penting ya ngomongin yang ini? Kayaknya nggak deeh…. Neutral).

Baiklah. Setelah beliau sedikit mem-biografi-kan dirinya, beliau kemudian bertanya pada saya apakah saya ini seorang pemeluk islam. Saya menjawab ya, setidaknya itu yang tertulis di KTP. Beliau bertanya lagi, “Kalau hari jum’at biasanya sholat jum’at di mana dik?”. Saya menjawab tidak tentu (maksudnya ya nggak tentu,….kadang sholat kadang enggak…). Beliau berkata lagi, “Sebentar dik, saya mau menawarkan sesuatu.”, setelah itu beliau masuk ke ruangan bagian dalam. Dalam hati saya berkata “#*&@%$”, saya berkunjung ke sini mau menawarkan sesuatu, lha kok sekarang beliau yang berbalik menawarkan sesuatu pada saya. Saya menduga kalau beliau itu mau menawarkan bisnis sampingan semacam MLM, viral marketing atau mungkin asuransi.

Tidak sampai lama menunggu, pak adel keluar sambil membawa semacam bulletin yang dikemas seadanya. Bulletin yang terdiri dari 10 halaman itu ditunjukkan pada saya. Di sampul depannya, ada gambar ustadz yusuf mansur (dengan gaya yang itu-itu aja..pokoknya gak banget deh… Smile, – piss pak ustadz -). Di atas gambar, tertulis judul bulletin “NIKMATNYA SEDEKAH Bersama Ustadz Yusuf Mansur”. Saya mulai berimajinasi, “wah…jangan-jangan ustadz yusuf ni mau bikin perusahaan buat nyaingi manajemen qalbu-nya aa gym”. Saya berpikir untuk mencari alasan supaya bisa cepat menghindar dari situasi yang genting ini. Tapi sebelum saya mendapatkan alasan, pak adel mulai bicara. Beliau bercerita tentang sedekah, sejauh apa sedekah mempunyai kekuatan untuk mengubah hidup kita, sejauh apa sedekah bisa mengangkat hidup seseorang, bagaimana sedekah secara ajaib bekerja menyelesaikan masalah seseorang, bagaimana keinginan bisa mudah dicapai dengan bersedekah, dsb. Tidak terasa saya sudah mendengarkan ceramah pak adel sampai selesai. Dan dari semua yang diucapkan beliau, tidak sekalipun mengandung ajakan untuk daftar ini itu, ikut pertemuan ini itu, atau membeli ini itu. Beliau cuma mengajak untuk bersedekah, jangan ditunda. Saya sadar kalau saya ini sering menunda untuk bersedekah. Saya sering merasa penghasilan saya belum cukup untuk disedekahkan, sehingga menunggu penghasilannya naik dulu baru bersedekah. Setelah penghasilan naik, tetap saja selalu ada alasan untuk menunda, untuk bayar tagihan kk dulu atau bayar utang ke teman dulu, dan begitu terus.

Waktu itu saya tidak membaca semua isi bulletin. Saya cuma membaca halaman depan dan halaman paling belakang. Di halaman terakhir bulletin tersebut, tercantum nama penyusunnya. Saya sedikit kaget ketika membacanya, ternyata yang menyusun adalah pak adel sendiri. Untuk memastikan, saya bertanya langsung ke beliau, “ini yang bikin bapak sendiri?”. Pak adel membenarkan. Saya tanya lagi, “terus kenapa di covernya yang ditempel gambar yusuf mansur, apa hubungannya ma dia?”. “saya pinjam nama dan fotonya aja. kalau saya kasih gambar saya, orang-orang pasti banyak yang gak percaya. tapi saya banyak mengutip dari ceramah-ceramahnya dia di tv”. Ooo…

Akhirnya, saya merasa sudah terlalu lama berada di situ, padahal kerja saya belum selesai. Setelah saya berujar mau pamit, pak adel meminta saya untuk menyimpan bulletin tersebut dan berpesan untuk tidak menunda-nunda sedekah. Sudah, begitu saja. Titik.  Selama perjalanan, saya terus bertanya-tanya, “apa iya orang ini malaikat?”. Saya baru bertemu dan mengenal orang ini, tapi orang ini langsung mengajak saya untuk berbuat sesuatu yang menurut saya seharusnya disampaikan oleh orang tua, saudara, guru atau sahabat. Dan yang perlu dicatat, orang ini tidak mendapatkan keuntungan apapun dari apa yang sudah dia perbuat dan sampaikan pada saya.

Memang Tuhan selalu bekerja dengan cara yang sangat misterius, dan saya tidak tahu apakah pak adel ini malaikat kiriman Tuhan atau orang yang lagi serius latihan untuk mengikuti kontes dai kondang. Tapi kalau beliau ini memang malaikat, saya jadi teringat berapa banyak pengemis-pengemis yang pernah saya cueki, jangan-jangan salah satu diantara mereka adalah jelmaan malaikat.


About this entry