Karina

Namanya karina (nggak tau udah bener pakai “K” atau pakai “C”). Sudah beberapa hari belakangan saya melihatnya sering stand by di warung ABC sebelah selatan kantor. Umurnya memang 5 tahun dan masih duduk di bangku TK, tapi kalau urusan bersolek nggak kalah sama cewek kuliahan atau ibu-ibu PKK. Sudah bisa narsis (ssstt…ada yang bilang kalau narsis itu sehat), dan suka melempar senyum kepada siapa saja, sampai yang dilempar senyum merasa kalau dia orang paling cakep di dunia. Padahal di balik senyumnya itu, tersimpan polemik rumah tangga yang belum lama menimpanya, yang membuat dia terpaksa mengungsi ke warung mbah-nya untuk sementara, entah sampai berapa lama.
Mendengar cerita keluarganya, lagi-lagi saya merasa bersyukur bahwa saya dikaruniai sebuah keluarga yang anggotanya saling menyayangi, meskipun satu sama lain jarang sekali mengungkapkan perasaannya dengan kalimat ‘I love you’ atau ‘aku sayang kamu’. Tapi juga bukan berarti keluarga saya seratus persen akur. Keributan memang kadang-kadang terjadi, tapi nggak sampai memicu munculnya UFO (piring terbang) melayang di udara atau sampai timbul perang baratayuda. Bukan hidup namanya kalau nggak ada perselisihan, bahkan di dalam satu individu saja sering ada perselisihan, di mata pelajaran sosiologi SMA dulu istilahnya konflik batin (nggak tau sekarang istilahnya masih sama atau sudah berubah).
Karina, jangan berhenti bersikap seperti sekarang. Setidaknya senyum genitmu bisa mempercantik ruang gelap dalam ‘lukisan yang paling indah’-mu. Tawa ceriamu bisa menambal ‘mutiara tiada tara’-mu yang sedang retak. Suaramu yang bersenandung bisa menghadirkan malaikat untuk mengisi kekosongan dalam ‘harta yang paling berharga’-mu.
You’re currently reading “Karina”, an entry on Blog e Manik Arum
- Published:
- 19.10.09 / 9pm
- Category:
- Surat kaleng
- Tags:
- malaikat, pengalaman
Baca juga ya...
- Post Navigation:
- « Ular Vegetarian
Cinta kan membawamu pake gitar bolong »
Numpang lewat »




