
Konon, dahulu ketika pertama kali tuhan menciptakan manusia, beberapa bagian tubuh manusia saling beradu argumen mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin mereka. Masing-masing anggota tubuh saling menonjolkan fungsinya bagi manusia dan mengorek-ngorek kelemahan anggota tubuh yang lain. Nyaris manusia yang sudah diciptakan tersebut mengalami kelumpuhan karena masing-masing anggota tubuh saling berdebat dan melupakan tugasnya.
“Akulah yang seharusnya menjadi pemimpin kalian, karena fungsiku sangat vital bagi manusia. Manusia tidak dapat berpikir kalau aku tidak ada, dan bukankah proses berpikir itu yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain, seperti kata bung Descartes kelak, cogito ergo sum.”, kata otak berapi-api membanggakan fungsinya.
Mulut tidak mau kalah dan menimpali, “Memangnya kamu bisa berpikir kalau kamu tidak mendapat suplai nutrisi. Kalian juga sama semua. Memangnya kalian bisa bekerja tanpa adanya nutrisi. Dan harus kalian ketahui, semua makanan yang mengandung nutrisi bagi kalian terlebih dahulu harus masuk melalui aku, atas ijinku. Kalau aku tidak mau menelan makanan sama sekali, apakah kalian bisa bekerja?”
“Eit, tunggu dulu, bung!”, hidung bergaya sok menengahi. “Apakah kalian lupa pentingnya oksigen bagi manusia. Manusia yang kita domplengi ini akan mati kalau tidak mendapat kadar oksigen yang cukup. Aku bisa saja ngambek dan mengunci lubangku rapat-rapat. Kalau sudah begitu, manusia ini akan mati kehabisan napas.”
“Siapa bilang, aku juga bisa memasukkan oksigen. Coba saja tutup lubangmu!”, kata mulut sambil mempraktekkan pernapasan lewat mulut.
Hidung pun terdiam, sambil memikirkan fungsinya yang lain bagi manusia. Sementara yang lain juga sudah bersiap untuk melancarkan argumennya masing-masing.
“Tenang, teman-teman. Lihat aku! Aku tak pernah menyombongkan sumbangsihku kepada manusia. Padahal peranku vital sekali bagi manusia. Aku adalah saluran terakhir bagi segala proses metabolisme manusia. Meskipun aku tidak kelihatan dari luar, tetapi sistem ekskresi tidak akan berjalan tanpa adanya diriku. Coba bayangkan kalau limbah yang kalian hasilkan itu tertimbun di dalam tubuh manusia selama berhari-hari. Kalian akan teracuni dan tidak bisa bekerja dengan benar. Selain itu, biosfir secara keseluruhan akan ikut terganggu, karena jasad-jasad renik pengurai yang mengambil makanan dari kotoran akan kehilangan perannya.”.
Lubang rektum mulai mendapat angin. Bagian tubuh yang lain pun mulai kelihatan gerah dan harus berpikir ekstra agar bisa mengimbangi.
“Tapi ingat, tum!”, kaki mulai ikut-ikutan. “Memangnya selama ini siapa yang bersedia memikul dirimu kalau bukan aku. Dan siapa pula yang ikut-ikutan repot kalau kamu sedang bekerja kalau bukan aku. Aku memposisikan diri sedemikian rupa sehingga kamu bisa melaksanakan tanggung jawabmu. Kalau aku tidak mau menekuk diri, memangnya bisa keluar kotoran yang kamu bangga-banggakan itu?”
“Eh, ngomong-ngomong soal sistem pembuangan, sebenarnya yang paling capek pada saat proses pembuangan berlangsung itu aku.”, perut mulai mendapat ide dan melontarkan argumennya sambil memamerkan pusarnya.
“Perhatikan saja! Selama proses pembuangan berlangsung, aku harus melakukan kontraksi sekuat-kuatnya. Aku harus menekan tubuhku kuat-kuat supaya kotoran yang berada di dalam bisa keluar. Intinya aku harus menciptakan ketegangan. Seperti yang kelak akan diucapkan oleh Alexander Dumas, kedamaian atau ketenangan akan dicapai jika terdapat ketegangan-ketegangan yang terkontrol. Seperti dawai gitar, ketegangannya harus bisa dikendalikan secara pas agar bisa menciptakan nada yang stem. Terlalu kendor, nada bisa sumbang, apalagi kalau terlalu kencang, dawai bisa putus dan terjadi chaos. Dan yang lebih penting lagi, kelak calon anak-anak manusia ketika masih berada di dalam ovarium dan masih mengandalkan induknya untuk mendapat suplai nutrisi akan memanfaatkan pusarku sebagai penghubung langsung dengan induknya. Bisakah calon-calon manusia itu tetap hidup tanpa adanya tali pusar?”, perut menutup argumennya dengan retorika.
Bagian tubuh yang lain pun tak mau kalah dan menyatakan pendapatnya dengan menggebu-gebu. Setiap bagian tubuh menjabarkan kelebihannya masing-masing dan mencari-cari kelemahan bagian tubuh yang lain.
Perdebatan itu terus berlangsung dan mungkin takkan ada habisnya. Bahkan sampai beribu-ribu keturunan dari generasi manusia pertama, perdebatan itu masih berlanjut dan belum menghasilkan titik temu. Yang lebih bahkan lagi, perdebatan itu mulai menjalar ke manusia itu sendiri sebagai satu kesatuan. Setiap manusia sibuk mencari cara-cara untuk menguasai manusia yang lain dan melupakan tugas pokoknya sebagai manusia. Setiap manusia berusaha mencari taktik jitu agar bisa menjadi pemimpin atas manusia yang lain, sampai ras manusia itu sendiri mendapat gelar “homo homini lupus”.
Sementara kebanyakan manusia dipenuhi ambisi untuk menguasai manusia lain, ada segelintir manusia yang sama sekali tidak tertarik untuk terjun ke arena itu. Dan seringkali segelintir manusia itu dianggap sebagai elemen masyarakat tidak penting yang harus dibasmi karena dianggap tidak memiliki optimisme dalam menjalani hidup, dianggap tidak memiliki kontribusi dalam kehidupan bernegara, seperti nyamuk yang harus di-fogging tanpa permisi. Tukang becak dan ojek yang berbaris rapi mangkal di sudut pengkolan, PKL (bukan Pejuang Kaki Lima) yang selalu jadi kambing hitam keruwetan lalu lintas dan tata ruang kota, gepeng yang bergerilya di traffic light, di dekat baliho besar bertuliskan “KEPADA PENGGUNA JALAN MOHON UNTUK TIDAK MEMBERIKAN UANG KEPADA PENGEMIS”, atau nenek minah yang dipenjara hanya karena telah mengambil 3 biji kakao. Dan masih banyak lagi manusia-manusia yang menjadi korban penyalahgunaan kutipan “leadership is action, not position”. Mentang-mentang harus ada aksi, yang kecil tak berdaya dan tak bisa mendatangkan keuntungan bagi kepemimpinannya harus dipaksa minggir. Mereka adalah bakteri, Escherichia coli yang ngendon di kolon manusia yang mendapat makanan dari sisa-sisa organ lain. Keberadaan dan perannya seringkali diabaikan, meski sebenarnya kontribusinya cukup besar. Seseorang mungkin berdalih, mereka adalah korban dari teori seleksi alam-nya Darwin. Bukan, mereka adalah korban dari teori dalam ilmu psikologi yang mengatakan, “manusia cenderung menjalin hubungan dengan manusia lain yang menurut dia bisa mendatangkan manfaat bagi dirinya”. Mereka adalah korban dari pemimpin yang tidak memahami bahwa “leadership is an opportunity to serve, it is not a trumpet call to self-importance”. Mereka adalah korban dari kerakusan manusia seperti yang digambarkan dengan gamblang oleh James Cameron di film “Avatar”.
Semoga umat manusia bisa mencapai tingkat kesadaran yang tertinggi, dimana setiap orang hidup dalam kesatuan dan harmonis dengan Ilahi, tidak akan ada kebutuhan akan pemerintahan yang merupakan ego bangsa untuk mengatur orang melalui berbagai minat dan kebutuhan yang berbenturan. Semoga umat manusia kelak akan hidup dalam kebebasan, kesenangan dan perdamaian sejati, seperti yang diramalkan Carl Johan Calleman.
[tulisan ini pernah dimuat di pengkolan, tapi ada revisi sedikit]




Leave A Reply Here