Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa, saya pernah berlangganan harian kompas edisi cetak dengan harga khusus mahasiswa yang lebih rendah daripada harga biasa. Tapi meski begitu, saya waktu itu belum begitu perkasa untuk membayar seorang diri jadi saya patungan dengan seorang sahabat yang tempat tinggalnya (kos) berjarak sekitar 25 km dari tempat kos saya. Sebut saja sahabat saya ini namanya rossi, mengingat dia ini tergila-gila sama valentino rossi, sampai-sampai dia memodifikasi motor suzuki sprinternya supaya bisa ditunggangi dan berjalan hanya dengan satu tangan kiri memegang setang. Lha terus kalau nge-gas gimana? Dengan menarik kabel gas langsung dari karburator, lebih efisien karena kabel gas tidak perlu ditarik sampai ke setang, jadi seperti orang menunggang kuda. Beneran ini nyata…..dan hanya rossi yang bisa melakukan itu. Tapi sayang belum bisa sambil baca koran.

Keajaiban itu terjadi sebelum kami sepakat untuk berlangganan koran kompas. Yang menandatangani formulir berlangganan adalah rossi dan setiap hari koran diantar ke tempat kos rossi oleh tukang kirim atau loper yang juga mahasiswa sekampus dengan kami. Skenarionya, koran diantar ke tempat rossi setiap hari. Dan setelah 2 atau 4 hari, koran -koran yang sudah lampau itu dibawakan oleh rossi ke tempat saya. Atau kalau tidak begitu, saya yang berkunjung ke tempat rossi untuk membaca koran-koran yang sudah berumur 2 sampai 4 hari itu. Jadi koran yang saya baca selalu kehilangan kehangatannya. Iya kalau pisang goreng masih bisa digoreng lagi….lha kalau koran apa bisa dicetak lagi biar tetap hangat. Tapi saya LA light (baca: enjoy aja) menikmati hidangan yang agak basi itu, bahkan sampai berbulan-bulan.

Once upon a time, kami memutuskan berhenti langganan, kalau tidak salah ingat karena biayanya mau naik. Tapi saya tetap usahakan untuk selalu membeli koran kompas edisi hari minggu, karena saya masih enggan untuk melewatkan tulisan Samuel Mulia di rubrik parodi dan wajah karikatur Benny & Mice yang menyebalkan.

benny and mice

Once upon a time lagi, kompas mengeluarkan edisi digitalnya atau disebut epaper yang bisa dibaca gratis via internet, bukan via panduwinata. Tapi ya sama saja bohong….harga koran kompas 3.500 per eksemplar, sedangkan tarif warnet 4.000 per jam, pilih yang mana coba? Orang susah memang sering dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan. Ambil contoh pemukim ilegal di pinggiran kali mas, mereka diberi pilihan oleh satpol PP, mau pindah atau digusur. Pilih yang mana saja, hasil akhirnya tetap sama. Kalau mereka pindah, pasti rumah bedengnya bakalan digusur, sedangkan kalau mereka memilih digusur, pasti ujung-ujungnya harus pindah juga. Tapi begitulah hidup, hanya manusia yang selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan untuk menunjukkan taji kehendak bebasnya. Yang penting D’masiv (baca: syukuri apa yang ada….) ajalaah.

Silverlight

Seperti saya yang mensyukuri ketika akhirnya bisa memiliki koneksi internet sendiri, jadi sudah tidak perlu main-main ke warnet. Pada saat itu, saya bisa membaca koran kompas versi epaper dengan mudah dan sepuasnya karena bisa disimpan di harddisk. Tapi kenikmatan itu tak bertahan lama karena tiba-tiba kompas bekerja sama dengan Microsoft untuk proyek epaper-nya. Dalam bahasa yang sederhana, epaper kompas hanya bisa dibuka jika di komputer kita terinstal aplikasi Microsoft Silverlight. Mau tidak mau, saya pun mendownload mangga di halaman depan dan mengunduh aplikasi silverlight dari situs resminya. Selesai mendownload dan mengunduh, mangga saya makan dan software saya install. Tapi kutukupret….!!!proses instalasi macet karena software mengenali bahwa OS windows yang saya pakai bukan versi genuine, alias bajakan. Kejadian ini tidak terjadi kemarin sore, tapi sudah cukup lama. Dan gara-gara itu, saya jadi agak ilfil sama kompas meski masih sering baca versi cetaknya.

Saya jadi teringat sebuah film lama, kalau tidak salah judulnya “The pirates of the silicon valley”. Film ini kebanyakan bercerita tentang sejarah bill gates bersama Microsoft. Di film itu diceritakan kalau bill gates telah mencuri ide steve jobs dari Apple. Ide inovatif untuk menciptakan OS dengan mode GUI (Graphical User Interface) sebenarnya berasal dari Apple, tapi ide itu ditiru oleh bill gates yang kemudian merilis OS windows-nya mendahului Apple dengan Mac-nya, sehingga media dan publik menganggap bahwa ide OS ber-GUI itu adalah inovasi dari Microsoft. Sebelum itu, bill gates dan dua orang temannya juga menjual OS jadul bernama DOS (Disk Operating System) kepada IBM, perusahaan komputer terbesar waktu itu. Bill gates mengaku dia dan timnya yang telah menciptakan OS itu, tapi sebenarnya dia membelinya dari seorang programmer pemabuk dengan harga yang sangat murah. OS itu kemudian dia tawarkan ke IBM dengan sistem royalti, artinya dia mendapat bagian sekian persen dari setiap unit komputer yang terjual. Jangan tanya saya sejauh mana kebenaran dari cerita itu, saya juga tidak tahu karena bukan saya sutradara dan pemeran utamanya.

Saya juga masih ingat sebuah kalimat yang diucapkan bill gates di film itu, “wes ewes ewesss….i don’t know emboh gak eruh…”. Kalau dibahasaindonesiakan kurang lebih seperti ini, “jika ingin bertahan hidup dan sukses, buatlah dirimu atau buatlah sesuatu yang dibutuhkan masyarakat”. Bill gates berhasil menciptakan sesuatu itu, yaitu windows dan aplikasi office-nya yang benar-benar adiktif. Dua produk utamanya itu telah menguasai mindset manusia tentang komputer -meski tidak semua manusia-. Di Indonesia, materi kurikulum mata pelajaran komputer di tingkat SD sampai SMA sebagian besar dikuasai dengan materi dari produk Microsoft. Hebat kan? Padahal produk dari microsoft itu sangat mudah dikuasai tanpa perlu diajarkan di sekolah. Kenapa bukan linux atau aplikasi berbasis linux yang diajarkan di sekolah-sekolah? Di sinilah hebatnya microsoft, atau mungkin lebih tepatnya kurang hebatnya pemerintah kita yang tak mampu mengatakan “TIDAK” pada microsoft.

microsoft evil monkey

Beranjak dari pengalaman tidak memuaskan akibat tidak bisa bebas lagi membaca epaper kompas, saya jadi tambah jengah dengan microsoft –mungkin saya gak sendiri-. Tapi di balik kejengahan itu, ternyata saya masih menggunakan OS dan aplikasi kantoran produksi microsoft. Saya sudah terjerat dalam perangkap microsoft. Maksudnya? Saya dan rossi punya pandangan iseng seperti ini, microsoft sebenarnya tahu kalau produknya sudah dibajak dan produk bajakan ini banyak dipakai oleh mayoritas pengguna komputer di indonesia. Microsoft sebenarnya bisa dengan mudah menangkal pembajakan itu, tapi itu sengaja tidak mereka lakukan. Tujuannya supaya generasi pengguna komputer terbiasa dulu dengan produk mereka, dan mengerti bahwa produk microsoft itu mudah dioperasikan. Mereka tidak memberi kesempatan kepada generasi muda pengguna komputer untuk mempelajari –atau setidaknya mengenal- OS kompetitor microsoft yang bisa didapat dengan gratis. Dan ketika saatnya tiba, microsoft akan menunjukkan taring dan tanduknya sehingga pengguna komputer tidak akan mampu berkata “tidak” ketika dalam keadaan yang terpaksa mereka disarankan “YOU HARUS BELI YANG GENUINE!”.