Seperti hari-hari kemarin, malam ini saya meluangkan waktu untuk menonton Opera Van Java, meski seperti hari-hari kemarin juga, nontonnya hanya setengah durasi (maklum TV saya agak penyakitan, bikin mata sakit kalo dipelototin lama-lama). OVJ edisi 7.6.2010 menghadirkan bintang tamu yuni shara dan unang bagito. Gak ada yang istimewa, kecuali satu adegan dimana azis dan yuni berpura-pura gagu. Di mana istimewanya?
Yang ini sangat subjektif. Dari dulu saya kurang suka kalau ada acara lucu-lucuan yang menampilkan pemainnya berpura-pura menjadi orang cacat, entah itu tuna wicara, tuna rungu, tuna netra, dan lain sebagainya. Yang paling parah acara terbaru yang tayang di global tv, the 3 mas ketir, dimana ketiga pemain utamanya menampilkan orang-orang cacat, yang satu buta, satu lagi tuli, dan satunya lagi gagu. The most I hated tv show. Bahkan kalau ada adegan yang lucu sekalipun, saya tetap susah sekali untuk ketawa. Bukan karena saya gak suka dengan pemainnya, atau karena lagi sakit gigi, juga bukan karena syaraf ketawa saya udah putus. Tapi lebih karena peran yang dimainkan. Cacat kok ditertawakan…. Sebagian orang mungkin berkata, “lho ini kan cuma acara tv bung…gak perlu dimasukkan dalam hati. ini cuma acara komedi yang gak perlu dianggap serius”. Lho emang apa bedanya dengan kehidupan yang kita jalani saat ini? Bukannya sama-sama ada panggung, pemain, peran dan cerita yang beralur?
Saya hanya membayangkan seperti ini, kalau saya ini lahir sebagai orang cacat, saya pasti akan merasa diolok-olok dengan adegan seperti itu. Dan dengan saya menertawakan adegan-adegan yang menurut sebagian orang itu lucu, saya merasa bahwa saya juga sedang menertawakan saudara-saudara kita yang menderita cacat fisik. Dan menurut penilaian etis -subjektif- saya, itu bukan hal yang benar. Siapa yang tahu perasaan mereka yang cacat ketika menonton kecacatan mereka dijadikan sebagai bahan dasar komoditi kelucuan. Mungkin di wajah mereka tertoreh secarik senyum tipis penuh misteri khas monalisa. Tapi siapa yang tahu apa yang mengendap-endap di dasar samudera perasaan mereka. Merasa diistimewakankah? Dipujikah? Diolok-olok atau malah merasa dihina? Wallahu ‘alam. Saya pribadi pasti merasa diolok-olok kalau jadi mereka, mungkin karena hati saya yang masih penuh prasangka.
Saya bukan orang yang dilahirkan dalam keadaan cacat -alhamdulillah-. Saya juga gak sedang mewakili mereka yang cacat dalam memberi penilaian acara komedi yang memanfaatkan kecacatan untuk membuat orang tertawa. Saya bukan seorang humanis seperti oscar schindler yang rela menukar total kekayaannya -bahkan cincin kawinnya- dengan nyawa-nyawa manusia yahudi korban holocaust (halaah lebay… ). Tapi saya juga bukannya gak berperasaan seperti amrozy yang masih bisa tertawa lepas setelah dengan sengaja menghilangkan nyawa orang-orang yang dia anggap sebagai musuh. Mungkin perasaan saya yang terlalu sensitif atau penuh prasangka. Semoga perasaan saya salah. Tapi gak harus cacat kok kalau mau lucu. Spongebob dan teman-temannya di bikini bottom aja bisa membuat cacing-cacing di perutku melonjak kegirangan tanpa harus menjadi cacat.




3 Users Responded in " Orang cacat bukan dagangan "
[Reply]
satu ungkapan yg baru kutemui dr dikau (sejak kita kenal …..) pd artikel ini yaitu ….. ‘Wallahu ‘alam’ dan ungkapan ‘alhamdulillah’…..
biyen aku ra tau krungu, bro ……! ! !
[Reply]
pandangan yg cukup idealis bung.
jadi masih mending guyonan orang bodoh ala Patrick,
atau guyonan si mata duitan ala Tuan Krab,
atau guyonan si pemalas Squidward ya ??
terima kasih dan mohon maaf
[Reply]
Leave A Reply Here