
Bayangkan seandainya Tuhan menciptakan setiap lelaki hanya untuk satu perempuan. Dan menciptakan setiap perempuan hanya untuk satu lelaki. Seorang lelaki tidak bisa mencintai perempuan lain selain yang sudah diperuntukkan buat dia. Dan seorang perempuan juga tidak bisa mencintai lelaki lain selain yang sudah ditetapkan untuknya. Sehingga tidak ada istilah poligami atau poliandri di dalam literatur sosiologi. Tidak pernah ada affair yang bersembunyi sambil bermain-main di belakang kesetiaan. Kesetiaan akan selalu terjaga rapi, terbungkus oleh kesadaran akan eksisnya makna cinta dan cinta itu sendiri. Kita tidak akan terjebak di dalam khayalan fantastis hanya untuk mendambakan sosok seseorang yang ingin kita cintai.
Bayangkan seandainya kita bisa merasakan jatuh cinta kepada orang yang sama setiap hari. Setiap kali bangun tidur di pagi hari, kita mendapati seseorang yang akan kita cintai seumur hidup telah berada di samping kita. Tersenyum manja seolah menegaskan bahwa dunia hanya milik berdua. Sungguh, masa depan akan tampak lebih sederhana, hari ini tampak lebih indah, dan hari kemarin seperti lembaran nostalgia yang ingin terus-menerus diulang setiap hari. Kebekuan hidup bisa dicairkan hanya dengan kedipan mata sang kekasih yang membias sampai ke ujung urat nadi. Kepongahan dunia bisa diluluhkan hanya dengan sentuhan halus tangan-tangan lembut yang mengalir pelan diantara pasak-pasak peradaban.
Bayangkan seandainya kita bisa menjemput ajal bersama-sama dengan sang kekasih pada saat yang bersamaan. Tidak ada raungan tangis yang membelah malam dengan gelombang air mata. Tidak ada penyesalan yang teramat dalam yang mampu mengubur kenangan-kenangan indah dengan ucapan belasungkawa. Yang ada hanya persulangan dua jiwa yang saling mengisi kehangatan cinta.
Kenapa Tuhan tidak membuat dunia yang seperti itu? Memang selalu ada makna di balik setiap apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tapi apakah kita harus jatuh sakit terlebih dahulu sebelum kita bisa menghayati arti sehat?

yah mungkin, diciptakannya cinta2 yang lain itu, untuk menguji, kwalitas kita dihadapan Tuhan, kalau kita mampu menahan menahan perbuatan buruk yang dilarang. sehingga kita menjadi manusia berkwalitas atau sebaliknya.
Lagian menurut saya perselingkuhan kebanyakan terjadi justru bukan karena cinta, tapi karena birahhi semata, cinta hanya di jadiin bungkus supaya perselingkuhan kelihatan benar.
itu menurut saya loh mas
Oh iya satu lagi, kok kadang blog ini berat ya waktu dibukaknya, jadi pas mau berkunjung jarang berhasil, apalagi dari internet kantor.. hixs
betul pakdhe,karena manusia punya kehendak bebas,free will is what made evil possible. why then did God give creatures free will? Because free will, though it made evil possible, is the only thing that made possible any love or goodness or joy worth having -CS Lewis-
saya cuma membayangkan aja kalo manusia hidup tanpa kehendak bebas
kenapa blog ini berat ya??mohon maaf pakdhe atas ketidaknyamanannya…mungkin jawabannya kira2 sama dgn pertanyaan “kenapa truk2 antar kota jalannya lemot kalo jalan di tanjakan?”.tp makasih masukannya
cinta sejati adalah kecintaan hamba kepada tuhan
super sekali….kecintaan hamba kepada tuhan direfleksikan dengan mencintai ciptaannya