Kau adalah rasaku dan aku adalah rasamu. Kau adalah pikiranku dan aku adalah pikiranmu. Kau adalah kata-kataku dan aku adalah kata-katamu. Lalu kita duduk di atas kuwadi dengan sikap seelok-eloknya, seelok sapuan aurora yang bertamu di kutub bumi. Kau di sisi kiriku dan aku di sisi kananmu. Dan di bawah kita adalah terbentang permadani yang ditenun dari bulu mata sekian bidadari dari sekian generasi. Tentu seperti yang kau mau, warnanya bening laksana kaca, seperti lantai istana ratu balqis hingga kau bisa melihat kuntum jerawat yang singgah di pipimu. Dan di atas kita adalah terbentang langit bermahkota bianglala bertabur bintang. Kau bisa melihat cupid-cupid kecil berselancar di atasnya sambil memainkan panahnya.
Aku mengecup keningmu yang dihiasi bulu-bulu lembut. Aku bisa melihat pupil matamu yang kecoklatan tampak menari berbinar. Continue reading →