Subscribe to my feed

Maaf mas…saya gak ada rencana jadi gay

Monday, May 24th, 2010

Ini cerita yang sama sekali gak penting, meski nyata. Lima hari yang lalu, ada nomor tak terdaftar di phonebook menelpon ke hape saya. Setelah saya angkat, ternyata cowok dan dia bertanya saya ini siapa. Saya jawab ‘kiki’, lalu saya tanya balik namanya. Dia menyebut namanya dan mengatakan kalau dia salah sambung. Ya sudah, itu biasa. Tiga jam setelah itu, nomor yang sama mengirim SMS. Dia memanggil saya dengan nama belakang saya, padahal hanya orang-orang terdekat yang tahu nama paling belakang saya. Dan setelah saya baca, ternyata isi pesannya gak sopan, jadi gak bisa saya tempel di sini. Tapi dari pesannya itu, saya menangkap kesan kalau orang ini gay. Karena gak suka dengan isi pesannya, saya gak membalas dan pesannya langsung saya hapus. Malam harinya, nomor yang sama sms lagi, dia memperkenalkan diri dan bilang kalau tadi dia salah kirim sms. Dua kali dia sms, dan saya gak balas sama sekali. Dia juga sempat menelpon, tapi saya cuekin. Keesokan harinya, dia menelpon lagi. Kali ini saya terima. Dia memperkenalkan diri lagi, begitu juga saya. Kemudian dia menanyakan hal-hal yang menurut saya kurang lumrah ditanyakan kepada orang yang baru dikenal. Saya jawab sekedarnya dan mengatakan saya lagi sibuk jadi gak bisa lama-lama terima telpon yang gak penting. Malam harinya dia nelpon lagi, saya angkat tapi gak ngomong, hape saya taruh di lantai. Keesokan harinya lagi, kemuakan saya mencapai puncaknya. Dia mengirim MMS yang isinya foto alat kelaminnya, diberi keterangan kalau itu kepunyaan dia. Nggilani puooolll…… saya mau muntah tapi gak ada yang bisa dimuntahkan, kecuali kemuakan. Saya langsung balas, “fuck your self!aku bukan gay”. Tapi ternyata dia ini pantang menyerah -harusnya dia hidup di zaman kolonialisme, atau jadi tentara nippon sekalian biar gak gampang menyerah pada sekutu-. Dia kirim sms lagi, isinya lebih persuasif dan penuh rayuan. Saya gak balas, dan dia kirim mms lagi. Tapi kali ini saya gak buka mms dari dia, melainkan langsung saya hapus. Tapi dasar keras kepala, keesokan harinya dia nelpon lagi, tapi gak saya gubris. Dan dia kirim mms lagi.…. dan lagi. Tapi lagi-lagi langsung saya hapus.

Sekali sudah saya beritahu kalau saya ini bukan gay, harusnya dia sadar dan gak gerilya lagi, atau nyari mangsa lain kalau emang udah gak tahan. Dan saya gak ada rencana untuk jadi gay, setahun lagi, 5 tahun lagi, 50 tahun lagi atau sampai mati saya gak ada rencana untuk jadi gay. Naudzubillah min dzalik.

Indonesian please!

Thursday, January 21st, 2010

Di suatu hari, saya pernah mampir ke sebuah apotek di daerah kerobokan badung bali. Setelah saya masuk ke dalam, ternyata di situ ada pembeli yang sedang dilayani sama SC-nya. Saya pun menunggu di ruang tunggu yang kursinya empuk sambil baca koran. Tidak lama, seorang bule cowok muda masuk dan bertanya ke SC dalam bahasa inggris. Karena SC kurang ngeh berbahasa inggris, dia pun memanggil temannya yang ada di dalam. Temannya yang ternyata apoteker dan ngeh bahasa inggris ini akhirnya keluar dan melayani si bule dalam bahasa inggris. Sekitar 5 menit, keperluan si bule pun selesai dan dia pun keluar.

Sambil pura-pura membaca koran, pikiran saya bertanya-tanya, orang indonesia kalau sowan atau hijrah ke luar negeri harus berbahasa inggris ketika berkomunikasi dengan orang sana. Itu bisa dimaklumi, karena orang indonesia di sana statusnya adalah pendatang dan minoritas, jadi mau nggak mau harus menyesuaikan diri. Sedangkan kalau orang bule yang travelling ke indonesia, mereka tetap saja maksa berbahasa inggris kalau berinteraksi dengan orang pribumi. Harusnya mereka berbahasa indonesia donk…..mereka kan tamu di sini, syukur-syukur kalau mereka bisa berbahasa bali. Sama seperti saya sebagai orang jawa yang merantau ke bali. Kan nggak mungkin kalau saya berinteraksi dengan orang bali menggunakan bahasa jawa. (…read more » )

Postingan nggak jelas blas

Tuesday, December 15th, 2009

Kalo tak perhatiin lama-lama, penampilan blogku ini beneran ruwet karna banyaknya elemen yang parkir. Ibarat terminal, mungkin seperti terminal bayangan wonokromo ato jembatan merah. Memang tiap elemen parkirnya lumanyun rapi, tapi entah kok seperti berisik banget gak mau diem. Kayak terminal yang penuh bis ma angkot ngetem, klaksonnya bersahut-sahutan bak sayembara burung berkicau, ditambah lagi teriakan kenek yang seolah makai megaphone volume penuh. Begitu juga tampilan blogku ini, tiap elemen seolah saling berteriak minta ditengokin sama pengunjung. Apalagi yang mengandung link, walaah amit-amit….sampe rela kulitnya disemir full color, ada yang ijo ndomblong, kuning manyun, dan ada juga yang ungu janda. Suaranya pun nggak kalah kencangnya.

“mas, klik aku donk…”. yang lain menyahut, “jelek itu mas, mending kesini ae”. Ada yang bernyanyi sambil menirukan gaya almarhum bang ben, “dek, di sini aje dek….”, yang nengokin pun menimpali “ogah ahhh…di sane aje…”. Ada juga yang bergaya genit menirukan ussy, “ku memang punya trik…buat kau klik….dengan diriku”. Haduuhh…kok malah kayak pasar pandegiling di malam hari. “bukan bli, ini pasar kreneng”

Ahhh…jadi teringat kreneng, tempat yang hampir gak ada matinya di denpasar, kalo siang jadi terminal angkot plus pasar, kalo malam jadi pasar senggol plus angkot nangkring. Sekedar tau aja, kreneng ini merupakan titik kedua di denpasar setelah terminal ubung dimana aku menginjakkan kaki ketika pertama kali merantau ke denpasar. Aku juga masih ingat, ketika aku jalan di trotoar setelah keluar dari area kreneng, aku mau nanya jalan ke mbak mbak yang lagi lewat, “maaf mbak, numpang nanya.”. Si mbak cuma diam sambil terus berlalu, bahkan menoleh pun enggak. Pertanyaan intinya belum kusampaikan, tapi si mbak udah ngacir aja. Padahal pertanyaan yang mau kusampaikan sangat sederhana, “kalo mau ke jalan kapten japa lewat mana ya mbak?”. Udah, itu aja. Dan itu pertanyaan yang ikhlas, bukannya sok bertanya biar dapat kenalan. Apa jadinya kalo aku ngasih pertanyaan kayak gini, “mbak…maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu? (salah satu judul cerpen hamsad rangkuti)” (…read more » )

Karina

Monday, October 19th, 2009

Karina

Namanya karina (nggak tau udah bener pakai “K” atau pakai “C”). Sudah beberapa hari belakangan saya melihatnya sering stand by di warung ABC sebelah selatan kantor. Umurnya memang 5 tahun dan masih duduk di bangku TK, tapi kalau urusan bersolek nggak kalah sama cewek kuliahan atau ibu-ibu PKK. Sudah bisa narsis (ssstt…ada yang bilang kalau narsis itu sehat), dan suka melempar senyum kepada siapa saja, sampai yang dilempar senyum merasa kalau dia orang paling cakep di dunia. Padahal di balik senyumnya itu, tersimpan polemik rumah tangga yang belum lama menimpanya, yang membuat dia terpaksa mengungsi ke warung mbah-nya untuk sementara, entah sampai berapa lama.

Mendengar cerita keluarganya, lagi-lagi saya merasa bersyukur bahwa saya dikaruniai sebuah keluarga yang anggotanya saling menyayangi, meskipun satu sama lain jarang sekali mengungkapkan perasaannya dengan kalimat ‘I love you’ atau ‘aku sayang kamu’. Tapi juga bukan berarti keluarga saya seratus persen akur. Keributan memang kadang-kadang terjadi, tapi nggak sampai memicu munculnya UFO (piring terbang) melayang di udara atau sampai timbul perang baratayuda. Bukan hidup namanya kalau nggak ada perselisihan, bahkan di dalam satu individu saja sering ada perselisihan, di mata pelajaran sosiologi SMA dulu istilahnya konflik batin (nggak tau sekarang istilahnya masih sama atau sudah berubah).

Karina, jangan berhenti bersikap seperti sekarang. Setidaknya senyum genitmu bisa mempercantik ruang gelap dalam ‘lukisan yang paling indah’-mu. Tawa ceriamu bisa menambal ‘mutiara tiada tara’-mu yang sedang retak. Suaramu yang bersenandung bisa menghadirkan malaikat untuk mengisi kekosongan dalam ‘harta yang paling berharga’-mu.

Lebaran Kali Ini Tidak Pulang

Saturday, September 19th, 2009

Surabaya, ke sana seharusnya saya pulang setidaknya tiap lebaran. Tapi idul fitri tahun 1430H ini saya tidak menunaikannya. Bukan karena tidak ada dana untuk pulang, atau waktu yang tidak mengijinkan, juga bukan karena malu karena belum punya gandengan dan gendongan. Tapi lebih karena saya tidak ingin terjebak dalam tradisi mudik yang menurut saya agak dipaksakan. Itu saja. Dan jumlah pemudik sepeda motor dari tanah bali menuju tanah jawa terpaksa harus berkurang satu karena ketidakhadiran saya. Tapi the show must go on, ada saya apa tidak, itu tidak berpengaruh. Para pemudik itu, dengan sadar mengetahui bahwa perjalanan mereka tidak akan mulus, terutama di pelabuhan gilimanuk mau menyeberang ke pelabuhan ketapang banyuwangi, tapi mereka seperti sudah kehilangan kapoknya, “yaa…setahun sekali mas”.

Saya masih ingat pengalaman tahun kemarin. Ketika itu saya berangkat naik motor dari denpasar sekitar jam 5 pagi bersama seorang kawan. Setelah diselingi beberapa kali istirahat di tempat grak..!, akhirnya sampai juga di area pelabuhan gilimanuk sekitar jam 10. Di depan saya sudah terlihat berjubelan pemudik sepeda motor yang sudah tiba lebih dulu di TKP entah dari jam berapa. Prediksi saya, paling 3 atau 4 jam pasti sudah naik kapal. Tapi prediksi jauh meleset. Sekitar jam 9 malam, saya bersama motor yang tidak pernah mengeluhkan pantat saya yang keras dan berkali-kali saya kasih kentut baru dapat kesempatan naik kapal, dan sekitar 1 jam berikutnya saya sudah menginjak tanah jawa. Sesampai di banyuwangi, kawan saya mengajak untuk menginap dulu di hotel barang semalam, daripada nanti kehilangan keseimbangan di jalan. Usulan saya terima, karena saya sendiri juga memang kepayahan.

Saya juga masih ingat ketika masih terjebak di barisan antrian. Saya mendengar cas cis cus kalau ada bayi yang meninggal di gendongan ibunya, dan cas cis cus itu memang benar adanya. Dengan mata sendiri, saya juga melihat ada 3 orang pingsan di atas motor. Bahkan ibu tiri pun tak sekejam tradisi mudik. Tapi dasar orang jawa, dapat musibah yang bagaimanapun, tetap masih untung, untung waktu ngantri tidak turun hujan batu, atau untung kapalnya tidak tenggelam. Kalaupun kapalnya tenggelam (semoga tidak pernah terjadi), masih untung tenggelamnya di air, bukan di pasir hisap. Sehingga tetap saja lebaran berikutnya mereka tidak kehilangan semangat mudik. Memang, pada waktu lebaran akan ada begitu banyak cinta sehingga kita bisa tenggelamnya di dalamnya.

“Selamat hari raya idul fitri buat para pemudik, mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah selalu menyertai perjalanan mudik kalian. Buat yang bukan pemudik, selamat hari raya idul fitri juga, mohon maaf lahir dan batin juga.”

Sebenarnya ada pertanyaan yang ingin saya ajukan buat para pemudik. Apakah mudik itu mereka lakukan benar-benar karena rindu dengan kampung halaman dan ingin sungkem dengan keluarga? Atau karena mengikuti tren saja, takut di-cap sebagai malin kundang oleh tetangga dan kerabat kalau tidak sowan ke kampung halaman? Mungkin ada juga orang yang benar-benar rindu dengan kampung halaman, tapi karena keadaan yang sangat tidak memungkinkan, mereka merayakan lebaran tidak bersama sanak saudara.

Mungkin itu yang dirasakan oleh 11 keluarga yang pernah saya jumpai di sebuah hotel di cakranegara mataram, pulau lombok. 11 keluarga itu merupakan pengungsi dari irak, dan hampir semua anak-anak mereka itu masih kecil. Menurut pengelola hotel, mereka sudah 2 tahun menghuni di situ dengan dibiayai oleh PBB, entah sampai kapan. Selama 3 hari 3 malam menginap di hotel itu, saya perhatikan mereka selalu terlihat bahagia, bahkan selalu tersenyum dan bertingkah genit kalau berpapasan dengan saya. Beberapa kali mereka menghampiri dan mencoba mengajak bicara, tapi karena tidak mengerti bahasa mereka, saya cuma manggut-manggut saja. Sebenarnya saya ingin membawa pulang salah satu diantara mereka, tapi tentu saja mereka adalah malaikat kecil bagi orang tua mereka. Mereka adalah harta yang paling berharga bagi orang tua mereka, dan saya tidak ingin merampasnya.

“Selamat hari raya idul fitri buat kalian, anak-anak pengungsi dari irak. Mohon maaf kalau aku punya kesalahan waktu itu. Sungguh senyum kalian tidak hanya membahagiakan diri kalian sendiri, tapi juga membahagiakan aku dan membuatku mensyukuri kehidupan masa kecilku. Doaku untuk kalian.”

pengungsi irak di cakranegarapengungsi irak di cakranegara

Bertemu Malaikat (bag 2)

Saturday, September 12th, 2009

bertemu-malaikat2

Beberapa hari setelah saya menulis bertemu malaikat, seorang teman yang belum terlalu lama saya kenal datang berkunjung. Di satu momen teman saya bercerita tentang ustadz yusuf mansur yang secara tidak sengaja dia tonton di salah satu kanal TV. Di situ si ustadz ini bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Ustadz pernah dipenjara sampai dua kali, dan ketika berada di penjara itulah dia mendapatkan pengalaman yang mungkin menjadi sebuah titik balik baginya. Suatu saat ketika ustadz merasa sangat lapar, dia mendapatkan sepotong roti. Sebelum disantapnya roti itu, ustadz melihat segerombolan semut berparade di lantai. Ustadz mengira kalau semut-semut itu pasti sangat kelaparan, sehingga roti itu pun tidak jadi dimakan dan malah ditaruh di lantai supaya semut-semut itu bisa mengganyangnya. Ustadz yang masih lapar ini telah memberikan rejekinya untuk makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia, dan yang ustadz pikir mungkin lebih kelaparan daripada dirinya sendiri. Ternyata tidak lama setelah itu, seorang penjaga datang dan bertanya kepada ustadz, “udah makan belum lo?”. Ustadz pun menjawab belum. Penjaga tadi langsung menyodori ustadz dengan makanan yang nikmatnya mungkin melebihi nikmat dalam sepotong roti. Dan dari situ, pandangan sang ustadz tentang kehidupan mulai berubah.

(…read more » )

Bertemu Malaikat?

Wednesday, September 2nd, 2009

bertemu-malaikatSeorang teman di facebook pernah menulis sebuah note berjudul “Keajaiban”. Saya yakin pengalaman teman saya ini tidak sependek note-nya. Dan dengan seijin yang punya note, di bawah ini saya sajikan note-nya tanpa melalui proses editting sama sekali.

Nyaris terdampar lebih lama di Labuan Bajo Flores karena tiket di bandar udara Komodo habis sampe tgl 2 September, sementara cek di pelabuhan kapal tidak ada yang jalan. Kepasrahan adalah satu-satunya jalan untuk meredam semuanya padahal galau di hatiku tak bisa kusembunyikan karena hari itu sebenarnya harus segera tiba di denpasar.

Airmataku rasanya udah mau jatuh ketika tiba-tiba seorang kontributor salah satu TV swasta yang tidak pernah kenal sebelumnya mampu menawarkan solusi dan mampu menembus ke pimpinan bandara hanya untuk mendapatkan tiket agar aku bisa segera keluar dr pulau itu. Benar-benar suatu keajaiban yang tak pernah terlupakan dalam sejarah hidupku.

Bahkan sampe sekarang pun masih belum percaya klo udah tiba kembali di denpasar karena sebelumnya terbayang pasti awal september baru tiba…

Ternyata setelah ditelusuri tiket pesawat udah dibooking jauh-jauh hari oleh para turis yang mau ke pulau Komodo…

Tuhan ternyata Kau ulurkan tangan-Mu lewat dia. Terima kasih Tuhan,

Terima kasih Sahabatku, Lanjutkan karya dan perjuanganmu.

Itulah pengalaman teman saya. Sekarang giliran saya. Saya juga punya pengalaman yang mungkin senada, meski tidak seseru dan sedramatis dengan cerita di atas. (…read more » )

Find entries :


BALI HEAVEN is a Bali Villa Agent which gives you fantastic value! We provide all type villas in bali in almost all area, Here you can find private beachfront villas or hidden away villas with paddys view or luxurious villa on the top of the hill with stunning view to the ocean, all are trully heaven on earth.