Thursday, July 15th, 2010
Cinta dalam secangkir kopi

Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku-liku.
Dan apabila sayapnya merangkulmu, pasrahlah serta menyerahlah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu, bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Cinta tak memberikan apa pun, kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta.
Dan juga jangan mengira, bahwa engkau dapat menentukan arah jalannya cinta.
Karena cinta, apabila telah memilihmu, dia akan menentukan perjalanan hidupmu.
- Kahlil Gibran -
(…read more » )
Posted in Bale bengong | 3 Comments »
Friday, July 9th, 2010

Bayangkan seandainya Tuhan menciptakan setiap lelaki hanya untuk satu perempuan. Dan menciptakan setiap perempuan hanya untuk satu lelaki. Seorang lelaki tidak bisa mencintai perempuan lain selain yang sudah diperuntukkan buat dia. Dan seorang perempuan juga tidak bisa mencintai lelaki lain selain yang sudah ditetapkan untuknya. Sehingga tidak ada istilah poligami atau poliandri di dalam literatur sosiologi. Tidak pernah ada affair yang bersembunyi sambil bermain-main di belakang kesetiaan. Kesetiaan akan selalu terjaga rapi, terbungkus oleh kesadaran akan eksisnya makna cinta dan cinta itu sendiri. Kita tidak akan terjebak di dalam khayalan fantastis hanya untuk mendambakan sosok seseorang yang ingin kita cintai.
Bayangkan seandainya kita bisa merasakan jatuh cinta kepada orang yang sama setiap hari. Setiap kali bangun tidur di pagi hari, kita mendapati seseorang yang akan kita cintai seumur hidup telah berada di samping kita. Tersenyum manja seolah menegaskan bahwa dunia hanya milik berdua. Sungguh, masa depan akan tampak lebih sederhana, hari ini tampak lebih indah, dan hari kemarin seperti lembaran nostalgia yang ingin terus-menerus diulang setiap hari. Kebekuan hidup bisa dicairkan hanya dengan kedipan mata sang kekasih yang membias sampai ke ujung urat nadi. Kepongahan dunia bisa diluluhkan hanya dengan sentuhan halus tangan-tangan lembut yang mengalir pelan diantara pasak-pasak peradaban.
Bayangkan seandainya kita bisa menjemput ajal bersama-sama dengan sang kekasih pada saat yang bersamaan. Tidak ada raungan tangis yang membelah malam dengan gelombang air mata. Tidak ada penyesalan yang teramat dalam yang mampu mengubur kenangan-kenangan indah dengan ucapan belasungkawa. Yang ada hanya persulangan dua jiwa yang saling mengisi kehangatan cinta.
Kenapa Tuhan tidak membuat dunia yang seperti itu? Memang selalu ada makna di balik setiap apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tapi apakah kita harus jatuh sakit terlebih dahulu sebelum kita bisa menghayati arti sehat?
Posted in Bale bengong | 4 Comments »
Friday, June 4th, 2010
Di suatu malam, seorang pria bermimpi dalam tidurnya. Dia bermimpi sedang berjalan bersama Tuhan menyusuri tepi pantai. Di atas langit, dia melihat gambaran perjalanan hidupnya, seperti sebuah film yang sedang diputar ulang. Di setiap adegan perjalanan hidupnya, dia memperhatikan bahwa selalu ada dua jejak kaki mengiringi yang membekas di hamparan pasir, satu kepunyaan dia sendiri dan satunya lagi jejak kaki Tuhan.
Di akhir pemutaran adegan perjalanan hidupnya, pria itu menoleh ke belakang dan melihat jejak kaki yang masih membekas di pasir. Dia memperhatikan bahwa ada saat-saat tertentu dimana jejak kaki yang terlihat di pasir hanya ada satu, dan itu terjadi pada saat-saat terendah dan tersedih dalam hidupnya.
Karena penasaran, pria ini bertanya kepada Tuhan. “Boss, kamu bilang bahwa sekali aku berjanji untuk mengikutimu, kau akan selalu berjalan di sisiku dan tidak akan pernah meninggalkanku. Tapi aku perhatikan ketika aku sedang dalam masalah dan terpuruk, hanya ada satu jejak kaki di pasir. Mengapa kau tega meninggalkanku di saat-saat aku sangat membutuhkanmu?”
Tuhan menjawab, “Kamu tahu kalau aku sayang umatku dan aku tidak akan pernah meninggalkan mereka yang sudah mengikutiku. Di saat-saat kamu sedang mengalami penderitaan, dan kamu hanya melihat satu jejak kaki di pasir, sesungguhnya pada saat itu aku sedang menggendongmu supaya kamu bisa melaluinya.”
Posted in petuah | 1 Comment »
Friday, May 28th, 2010
- Tuhan tidak akan bertanya berapa dan jenis kendaraan yang kamu punya, tapi Tuhan akan bertanya berapa jumlah orang yang sudah kamu antar dengan kendaraan itu.
- Tuhan tidak akan menanyakan berapa meter persegi luas rumah yang kamu tinggali, tapi Tuhan akan menanyakan berapa jumlah orang yang sudah kamu jamu dengan baik di rumah itu.
- Tuhan tidak akan menanyakan seberapa bagus pakaian yang kamu simpan di dalam lemari, tapi Tuhan akan menanyakan seberapa sering kamu memberi pakaian kepada yang lebih membutuhkan.
- Tuhan tidak akan menanyakan status sosialmu, tapi bagaimana kamu menunjukkan sikap sosialmu terhadap sesama.
- Tuhan tidak akan menanyakan berapa jumlah materi yang kamu punya, tapi Tuhan akan bertanya apakah materi yang kamu punya itu telah mendikte hidupmu.
(…read more » )
Posted in petuah | 6 Comments »
Thursday, March 11th, 2010

Seorang eksekutif muda sedang mengendarai mobilnya menyusuri jalanan sepi di sekitar tempat tinggalnya. Dia kelihatan sedang buru-buru sampai dia tidak menghiraukan seorang anak kecil di pinggir jalan yang melambaikan kedua tangannya seolah ingin memanggil dia. Tidak jauh setelah dia melewati anak kecil yang berdiri itu, tiba-tiba sebongkah batu melayang dan mengenai kaca mobilnya. Eksmud itu pun terkejut dan menghentikan mobilnya. Dia keluar dan menghampiri anak kecil yang berdiri tadi, “Apa kamu yang melempar mobilku tadi?”
Anak itu mengakui perbuatannya dan langsung meminta maaf. “Maaf om, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya sudah memanggil orang-orang yang lewat tapi tak ada yang mau berhenti, jadi terpaksa saya melempar dengan batu supaya om mau berhenti.” Dengan masih menitikkan air mata, anak itu menunjuk ke adiknya yang cacat dan terjatuh di pinggir trotoar. “Dia itu adik saya, dia terjatuh dari kursi roda dan saya tidak kuat untuk mengangkatnya. Maukah om membantu mengangkatnya kembali ke kursi roda?”
Eksmud yang sedikit terhenyak itu akhirnya mendekati anak kecil yang terjatuh itu dan mengangkatnya kembali ke kursi roda. Dia mengambil sapu tangan dan membersihkan luka di tangan anak itu. Anak kecil yang melempar batu tadi mengucapkan terima kasih dan pelan-pelan mendorong kursi roda saudaranya meninggalkan eksmud itu. Eksmud itu masih terdiam dan buru-buru mengambil smartphone lalu menuliskan sesuatu di status facebooknya, “bt ndengerin bencong ngamen di bis“. uppssss salah ding!! itu alex yang udah gak lebay……maksudnya seperti ini, “Don’t go through life so fast that someone has to throw a brick at you to get your attention!”
Tuhan dengan cara yang misterius (mungkin dengan sedikit bantuan malaikat-Nya) selalu membisikkan kepada kita apa yang harus kita perbuat. Bahkan tanpa mendapat pelajaran PPKn, agama atau pendidikan moral lainnya, hati nurani kita selalu bisa memilah-milah mana yang baik dan buruk. Tinggal kita mau mendengarkan atau tidak. Dengarkan bisikan itu…..atau menunggu dilempar batu oleh Tuhan penguasa alam semesta.
Posted in petuah | No Comments »
Saturday, February 27th, 2010

Konon, dahulu ketika pertama kali tuhan menciptakan manusia, beberapa bagian tubuh manusia saling beradu argumen mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin mereka. Masing-masing anggota tubuh saling menonjolkan fungsinya bagi manusia dan mengorek-ngorek kelemahan anggota tubuh yang lain. Nyaris manusia yang sudah diciptakan tersebut mengalami kelumpuhan karena masing-masing anggota tubuh saling berdebat dan melupakan tugasnya.
“Akulah yang seharusnya menjadi pemimpin kalian, karena fungsiku sangat vital bagi manusia. Manusia tidak dapat berpikir kalau aku tidak ada, dan bukankah proses berpikir itu yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain, seperti kata bung Descartes kelak, cogito ergo sum.”, kata otak berapi-api membanggakan fungsinya.
Mulut tidak mau kalah dan menimpali, “Memangnya kamu bisa berpikir kalau kamu tidak mendapat suplai nutrisi. Kalian juga sama semua. Memangnya kalian bisa bekerja tanpa adanya nutrisi. Dan harus kalian ketahui, semua makanan yang mengandung nutrisi bagi kalian terlebih dahulu harus masuk melalui aku, atas ijinku. Kalau aku tidak mau menelan makanan sama sekali, apakah kalian bisa bekerja?”
“Eit, tunggu dulu, bung!”, hidung bergaya sok menengahi. “Apakah kalian lupa pentingnya oksigen bagi manusia. Manusia yang kita domplengi ini akan mati kalau tidak mendapat kadar oksigen yang cukup. Aku bisa saja ngambek dan mengunci lubangku rapat-rapat. Kalau sudah begitu, manusia ini akan mati kehabisan napas.”
“Siapa bilang, aku juga bisa memasukkan oksigen. Coba saja tutup lubangmu!”, kata mulut sambil mempraktekkan pernapasan lewat mulut. (…read more » )
Posted in Surat kaleng | No Comments »
Monday, November 9th, 2009
Cukup lama aku terlena oleh buaian empetri dan kroni-kroni digitalnya, sampai akhirnya aku tersadar, ternyata kini eksistensi kaset yang single fighter sudah sangat langka.
Mulanya, seorang teman menanyakan di mana aku biasanya membeli kaset. Aku menyebutkan beberapa tempat di denpasar yang koleksi kasetnya lumayan banyak. Tapi temanku ternyata mengetahui tempat yang aku sebutkan, dan malah ngasih tahu kalau tempat yang aku sebutkan tadi sudah nggak menyediakan kaset. Aku mengernyitkan dahi tanda kurang percaya. Dan keesokan harinya, langsung kutuju 3 tempat yang setahuku dulu menyediakan tempat buat kaset untuk mejeng. Dan ucapan temanku benar, bahkan salah dua dari toko kaset itu sudah tutup sama sekali. Kalau pantas aku menangis, mungkin aku sudah menangisi kepergianmu, kaset….
Tapi bukannya sama sekali menghilang, di beberapa toko kecil ternyata masih menjual kaset, meski bukan kaset hasil produksi major label nasional atau mancanegara, melainkan hasil produksi label lokal yang ada di bali, yang hampir semua lagu-lagunya mebasa bali atau berbahasa bali. Aku masih ingat terakhir kalinya aku membeli kaset, yaitu album Joe Satriani yang diberi judul ‘Is there love in space?’ bulan oktober tahun 2004.
Kalau iseng-iseng dipikir, judul album itu memang cukup menggambarkan kondisi kaset yang mulai tercampakkan. ‘Space’ atau angkasa luar, bisa dianalogikan sebagai kemajuan teknologi manusia yang sekarang ini memang sudah bisa menjangkau angkasa luar, meski baru se-upil (permisi ya…..aku mau ngupil dulu). Semakin maju teknologi kita untuk meracik audio dalam format digital, semakin kaset ditinggalkan, semakin pudar juga cinta kita terhadap hal-hal yang berbau analog. Seperti memudarnya cinta kita terhadap utusan Tuhan ketika nabi-nabi semu mulai bermunculan dengan ajaran digitalnya. Kita lebih suka menengok isi facebook, twitter, youtube dan sekutunya daripada kitab suci yang kita anggap udah nggak jaman dan nggak up to date. Dan Joe Satriani pun bertanya lewat albumnya, is there love in space?
Ooh…kaset, riwayatmu kini………
Posted in Surat kaleng | 1 Comment »